Konflik Antar Daerah
Persaingan?
Konflik?
Tak asing lagi kan dengan kalimat itu. Yaah, persaingan dan konflik saling
berhubungan. Bermula dari adanya persaingan antara perorangan lalu timbullah
seebuah konflik. Sedangkan persaingan antar daerah bahkan konflik antar daerah
telah terjadi di berbagai bangsa. Ini merupakan salah satu contoh dari
kelemahan otonomi daerah. Sebenarnya, apa sih penyebab dari terjadinya konflik
tersebut? Lemahnya otoda, terjadi konflik antar daerah itu bisa dilihat dari perbedaan
individu itu sendiri, perbedaan kebudayaan dan bahkan perbedaan kepentingan.
Perbedaan
individu bisa dilihat dari kepribadian diri mereka sendiri. Setiap manusia
memiliki kepribadian, sifat dan karakter tersendiri. Jika ada salah satu yang
tidak sesuai dengan hati mereka, maka akan timbul rasa kebencian dan saling
tidak menghargai satu sama lain. Contoh kecil saja, ini saya ambil dari lingkup
kecil dalam masyarakat. Tetangga saya si A dia sangat suka dengan musik-musik
religi, setiap sore selalu memutar alunan sholawat. Sedangkan tetangga saya
yang satunya, si B, dia suka musik-musik dangdut. Mereka saling bersaingan, tidak ada yang mau mengalah. Dan
akhirnya mereka pula mengalami konflik. Tindakan mereka tersebut sungguh meresahkan
warga sekitar.
Sedangkan
perbedaan kebudayaan itu timbul, bisa dari asal mereka tinggal dimana. Orang
yang dilahirkan di Jawa berbeda dengan orang yang dilahirkan dari Madura. Mulai
dari cara berbicara, bahasanya, maupun perilakunya. Konflik itu bisa timbul
diantara keduanya jika adanya rasa tidak ingin menyatu dan rasa saling
membanggakan kebudayaannya masing-masing. Selain itu perbedaan kepentingan juga
sebagai penyebab terjadinya konflik
antar daerah satu dengan yang lain. Misalnya saja, dalam lingkup kecil antar
dusun A dan dusun B. Dusun A memiliki
kepentingan sangat berantusias ketika mengadakan ruwah desa dengan adanya
hiburan seperti wayang kulit, ludruk, dan campursari. Sedangkan di dusun B,
mereka sangat berantusias untuk mengadakan pengajian, sholawatan dan hal-hal
yang berbau islami. Disinilah konflik itu muncul. Mereka berebut memeriahkan
ruwah desa dengan mementingkan urusan mereka, sebenarnya saat ruwah desa hanya
satu saja yang ada sebagai hiburan, namun karena terjadinya konflik tersebut
akhirnya keduanya dilaksanakan dalam memeriahkan juga mengatasi konflik yang
terjadi.
Disisi lain konflik-konflik tersebut juga
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain,
-
apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap
kelompok lain, contohnya adalah konflik yang terjadi di Aceh dan Papua.
-
terdapat persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian
hidup antara kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya konflik yang
terjadi di Sambas
-
terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga
sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya konflik yang terjadi di
Sampit.
-
terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah
bermusuhan secara adat. Contohnya konflik antar suku di pedalaman Papua.
Konflik
antar agama tadi dapat menjadi lebih tajam ketika perbedaan agama diperkuat dan
dipertegas oleh perbedaan suku, politik, sosial budaya, ekonomi dan sebagainya.
Dalam konflik tersebut ajaran agama dijadikan acuan dan pegangan dalam
menghadapi kelompok agama lain, Bahwa pemeluk agama dengan pengetahuan
kebudayaan yang dimilikinya mengaktifkan bagian-bagian tertentu dari ajaran
agama yang dianutnya dan dianggap dapat menjelaskan keberadannya dalam
kehidupan dalam menghadapi lingkungannya yang diambil sebagai dasar pembenaran.
Untuk
mengatasi masalah tersebut, sebaiknya saling menghargai antar suku, ras, dan
agama. Memberikan pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten bahwa negara
Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, dimana berbeda-beda namun
tetap satu jua. Serta diantara kedua belah pihak harus saling memahami dan
memaafkan agar konflik itu tidak terjadi lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar