Rabu, 13 November 2013

Otonomi Daerah


Konflik Antar Daerah

Persaingan?
Konflik? Tak asing lagi kan dengan kalimat itu. Yaah, persaingan dan konflik saling berhubungan. Bermula dari adanya persaingan antara perorangan lalu timbullah seebuah konflik. Sedangkan persaingan antar daerah bahkan konflik antar daerah telah terjadi di berbagai bangsa. Ini merupakan salah satu contoh dari kelemahan otonomi daerah. Sebenarnya, apa sih penyebab dari terjadinya konflik tersebut? Lemahnya otoda, terjadi konflik antar daerah itu bisa dilihat dari perbedaan individu itu sendiri, perbedaan kebudayaan dan bahkan perbedaan kepentingan.
Perbedaan individu bisa dilihat dari kepribadian diri mereka sendiri. Setiap manusia memiliki kepribadian, sifat dan karakter tersendiri. Jika ada salah satu yang tidak sesuai dengan hati mereka, maka akan timbul rasa kebencian dan saling tidak menghargai satu sama lain. Contoh kecil saja, ini saya ambil dari lingkup kecil dalam masyarakat. Tetangga saya si A dia sangat suka dengan musik-musik religi, setiap sore selalu memutar alunan sholawat. Sedangkan tetangga saya yang satunya, si B, dia suka musik-musik dangdut. Mereka saling  bersaingan, tidak ada yang mau mengalah. Dan akhirnya mereka pula mengalami konflik. Tindakan mereka tersebut sungguh meresahkan warga sekitar.
Sedangkan perbedaan kebudayaan itu timbul, bisa dari asal mereka tinggal dimana. Orang yang dilahirkan di Jawa berbeda dengan orang yang dilahirkan dari Madura. Mulai dari cara berbicara, bahasanya, maupun perilakunya. Konflik itu bisa timbul diantara keduanya jika adanya rasa tidak ingin menyatu dan rasa saling membanggakan kebudayaannya masing-masing. Selain itu perbedaan kepentingan juga sebagai penyebab  terjadinya konflik antar daerah satu dengan yang lain. Misalnya saja, dalam lingkup kecil antar dusun A dan dusun B. Dusun  A memiliki kepentingan sangat berantusias ketika mengadakan ruwah desa dengan adanya hiburan seperti wayang kulit, ludruk, dan campursari. Sedangkan di dusun B, mereka sangat berantusias untuk mengadakan pengajian, sholawatan dan hal-hal yang berbau islami. Disinilah konflik itu muncul. Mereka berebut memeriahkan ruwah desa dengan mementingkan urusan mereka, sebenarnya saat ruwah desa hanya satu saja yang ada sebagai hiburan, namun karena terjadinya konflik tersebut akhirnya keduanya dilaksanakan dalam memeriahkan juga mengatasi konflik yang terjadi.
Disisi lain konflik-konflik tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor antara lain,
-      apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain, contohnya adalah konflik yang terjadi di Aceh dan Papua.
-      terdapat persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup antara kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya konflik yang terjadi di Sambas
-      terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya konflik yang terjadi di Sampit.
-      terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya konflik antar suku di pedalaman Papua.
Konflik antar agama tadi dapat menjadi lebih tajam ketika perbedaan agama diperkuat dan dipertegas oleh perbedaan suku, politik, sosial budaya, ekonomi dan sebagainya. Dalam konflik tersebut ajaran agama dijadikan acuan dan pegangan dalam menghadapi kelompok agama lain, Bahwa pemeluk agama dengan pengetahuan kebudayaan yang dimilikinya mengaktifkan bagian-bagian tertentu dari ajaran agama yang dianutnya dan dianggap dapat menjelaskan keberadannya dalam kehidupan dalam menghadapi lingkungannya yang diambil sebagai dasar pembenaran.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sebaiknya saling menghargai antar suku, ras, dan agama. Memberikan pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten bahwa negara Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, dimana berbeda-beda namun tetap satu jua. Serta diantara kedua belah pihak harus saling memahami dan memaafkan agar konflik itu tidak terjadi lagi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar