Pemilu?
Semua orang tidak asing lagi dengan
kalimat tersebut. Negara kita Indonesia adalah negara demokrasi, dimana dalam
memilih seorang pemimpin harus melalui pemilu (pemilihan umum). Pemilu sendiri
merupakan sebuah pemilihan yang dilakukan lima tahun sekali untuk menentukan
siapa yang akan menjadi sebaagi pemimpin rakyat. Atau bisa dikatakan dengan
memilih anggota lembaga perwakilan, mulai dari Kepala Desa, DPR, DPRD Provinsi,
hingga Presiden. Makna yang paling esensial bagi kehidupan politik yang
demokratis dari pemilihan umum yaitu pergantian dan perebutan kekuasaan yang
dilakukan dengan norma dan etika sehingga sirkulasi politik dapat dilakukan
dengan damai dan beradab.
Namun, realitas pemilu saat ini masih
jauh dari harapan. Masih bnayak orang yang kurang akan pemahaman tentang
pemilu. Masyarakat masih banyak yang kurang berpartisipasi dalam pemilu. Contoh
kecil saja, di desa saya ketika
dilaksanakan pemilihan Kepala Desa, beberapa orang berkata : “Saya tidak akan
memilih jika tidak mendapatkan imbalan”. Sungguh mengharukan dengan kalimat
tersebut. Padahal memilih itu merupakan hak mereka untuk memilih pemimpin yang
terbaik buat mereka. Dan jika mereka hanya membutuhkan imbalan, berarti mereka
tidak mempunyai pandangan bagaimanakah pemimpin yang akan memimpinnya dengan
baik kedepannya.Tidak hanya itu, ketika pemilu itu dilaksanakan masyarakat
masih kurang akan informasi yang ada. Saat pencoblosan misalnya,
kekurangan-kekurangan itu begitu terlhat. Mulai dari banyaknya yang salah dalam
menyoblos, tidak sesuai dengan gambar dsb, dan juga masih banyak kotak suara
yang tidak sah.
Seharusnya hal utama yang harus
dilakukan oleh pemilih yaitu memastikan namanya tercantum dalam daftar pemilih,
namun pada umumnya panitia sudah mendatangi tiap rumah dalam pemilihan. Mengetahui tata cara dalam pemilihan ataupun
pencoblosan dan alangkah baiknya jika masyarakat diberi pemahaman tentang
pemilihan umum yang baik. Bahwasanya pemilihan umum itu dilakukan untuk memilih
lembaga perwakilan yang mana akan memimpin masyarakat atau rakyat itu sendiri. Dan
jika pemimpin itu sesuai dengan pilihan hati nurani rakyat, mungkin daerah atau
negara akan aman, begitu pula sebaliknya. Bukan itu saja, untuk meningkatan
partisipasi masyarakat dalam pemilu, diperlukan sumber informasi seperti brosur,
kampanye iklan di radio, televisi, debat/dialog kandidat pemilu dan lain-lain. Pemimpin
yang baik ada di tangan rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar